Fortune of the Bottom of the Pyramid

Salah satu buku bisnis dan strategy management yang cukup menarik yang telah di release cukup lama, adalah buku yang di tulis oleh C.K. Prahalad. Buku ini mengupas tuntas tentang ketimpangan yang terjadi dalam distribusi kekayaan global, yang dalam buku tersebut digambarkan bahwa kekayaan beberapa orang milyuner dunia (misal: Microsoft,Aapple, Chevron dsb) sebanding dengan kekayaan milyaran penduduk bumi lain nya yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, beberapa negara yang dapat kita ambil contohnya; misalnya di India, Bangladesh, dan negara-negara di afrika.

Sebuah piramida distribusi wealth (kekayaan) di gunakan untuk menggambarkan betapa distribusi global tentang wealth yang tidak merata dengan baik. Salah satu poin menarik dari buku/penelitian ini didapati bahwa ternyata para penghuni paling bawah dari pyramid yang notabene adalah para kaum duafa justru memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian dunia atau global tanpa kita sadari, sebagai contoh kasus menarik adalah pinjaman bank. Hal ini di sebabkan bahwa kaum papa jika dilihat secara kasat mata dalam bank point of view maka para kaum duafa memang sangat tidak bankable akan tetapi pada dasarnya malah  sebenarnya mampu secara financial untuk mengembalikan pinjaman yang diberikan kepadanya jika diberikan komitmen kepadanya. Mereka tidak punya kesempatan untuk mendapatkan pinjaman karena prosedur bank yang rumit yang menuntut jaminan sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk mengajukan pinjaman modal bagi usahanya.

Salah satu contoh kasus yang menarik adalah ketika kaum duafa diberikan kepercayaan untuk mengelola pinjaman dari bank simpan-pinjam yang kecil maka sangat jarang dari mereka yang memunculkan masalah terhadap pengembalian pinjaman tersebut (jarang terjadi bad debt), sehingga hal ini yang menjadi cikal bakal tumbuh kembang nya Grament Bank di Bangladesh yang di gagas oleh Muhammad Yunus.

Hal yang sama juga terjadi pada sector industry telekomunikasi, yang secara kasat mata kaum duafa tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur telekomunikasi seperti hand phone dan pulsa, hal yang sebaliknya didapati bahwa dari hasil research yang ada sangat bertolak belakang, justru kaum papa mempunyai daya beli yang cukup tinggi jika skema yang dikembangkan untuk mendapatkannya dipermudah, dari sini kita lihat pembuktian yang lain bahwa purchasing power dari kaum duafa sangat tinggi terhadap bisnis yang sarat modal tersebut. Hal ini pula yang memicu beberapa operator telekomunikasi untuk mengembangkan bisnis nya guna mendapatkan segment market dari golongan duafa yang sebernarnya mempunyai purchasing power yang tinggi.

Contoh kasus yang menarik untuk dilihat di industry telekomunikasi ini adalah berkembangnya Grament Phone di Bangladesh dengan target market kaum duafa yang malah men dongkrak revenue Grament Phone sehingga tumbuh dengan baik, dan hal serupa sudah mulai di tiru oleh operator telekomunikasi di Indonesia, sebagai contoh adalah XL yang sebentar lagi akan di ikuti oleh Indosat dan Telkomsel.

Fortune the Bottom of the Pyramid, sebuah anomaly disaat kesenjangan yang begitu tinggi dalam pasar global ini, dimana si kaum papa yang semakin banyak tetapi mempunyai purchasing power yang tinggi untuk industry yang sangat padat modal. Sehingga fenomena ini harus menjadi pertimbangan dalam mengembangkan konsep bisnis yang kita kelola untuk tidak meremehkan daya beli kaum papa. Semoga bermanfaat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s