Tren Demografi di Indonesia: Peluang, Tantangan dan Inovasi dalam Bisnis Telekomunikasi dan Informatika

Abstract
Salah satu indicator tingkat kemajuan sebuah negara adalah diukur dengan tingkat kemajuan teknologi serta akesabilitas terhadap informasi, sebab masyarakat dalam ukuran tingkat kemajuannya akan mengalami sebuah transformasi budaya yang dimulai dari negara agraris, negara industri dan pada akhirnya sebuah negara yang akan bertransformasi menjadi sebuah negara yang berbasiskan informasi. Dalam kaitan ini, Indonesia sebuah negara yang mempunyai tingkat penyebaran penduduk yang sangat kompleks akan melahirkan peluang serta ancaman dan tantangan dalam bisnis telekomunikasi dan informatika (internet), untuk itu diperlukan inovasi produk dan layanan yang tepat sehingga akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan tepat sehingga sebuah situasi yang saling menguntungkan antara operator telekomunikasi dan masyarakat selaku pengguna jasa telekomunikasi dan informatika.Tingkat pemeratan penduduk mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap strategi bisnis, inovasi layanan yang dijual kemasyarakat, idelisme bisnis harus diimbangi oleh komitmen yang kuat dalam meningkatkan daya saing bangsa melalui teknologi telekomunikasi dan akses informasi (internet)

Pendahuluan: Demografi dan Telekomunikasi-Informatika (Teknologi)

Intuit (2007) mengemukakan bahwa masyarakat dalam suatu negara akan mengalami tiga fase dalam transformasi atau perubahan, yang diawali dengan transformasi sosial yang terjadi pada kurun waktu 1960 sampai dengan 1980-an, kemudian dilanjutkan dengan transformasi teknologi yang terjadi pada kurun waktu 1980 sampai dengan 2000-an dan pada akhirnya akan melakukan transformasi ekonomi yang akan terjadi pada rentang waktu 2000 dan seterusnya. Dan dalam setiap era akan melahirkan tantangan baru bagi pelaku bisnis dalam industri telekomunikasi dan informatika di Indonesia, terutama dalam era informasi dan ekonomi. Dimana pada masa awal dikenalkannya produk teknologi ini masih menjadi sebuah produk yang mahal dan tidak terjangkau bagi kalayak umum diawal tahun 1990 an namun sekarang menjadi produk yang sangat murah dan terjangkau bagi masyarakat dengan daya beli yang rendah.

Kemudian disisi lain salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh tingkat kemajuan dan penetrasi teknologi pada masyarakat suatu bangsa, yang menurut Lukito Hasta Pratopo (Februari,2009), bahwa pertumbuhan ekonomi salah satunya ditopang oleh TFP (total factor productivity) yang didalamnya memuat unsur tingkat penguasaaan dan peranan teknologi dalam membangun sebuah ekonomi yang berbasis pengetahuan. Dan salah satu faktor penunjang Utama dalam penguasaan teknologi adalah tingkat kemudahaan dalam akses informasi sehingga industri telekomunikasi menjadi sebuah industri yang sangat penting dan menentukan dalam mengawal semua tahapan era transformasi utamanya dalam era sekarang ini yaitu era informasi dan ekonomi yang berbasis pada teknologi.

Dilain fihak, penyebaran dan tingkat pertumbuhan penduduk menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam kaitannya sebuah kegiatan bisnis, sebab penduduk dalam sebuah masyarakat merupakan obyek dari kegiatan bisnis yang akan kita lakukan, sebab dengan memahami penyebaran penduduk maka kita akan mampu membuat serta menjual produk yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut.

Sehingga menjadi suatu hal yang sangat menarik dan penting melihat perkembangan sebuah era dalam masyarakat yang berbasis kan pada perkembangan teknologi yang didalam nya teknologi informasi dan telekomunikasi menjadi salah satu enabler dalam transformsi tersebut.

Demografi Telekomunikasi-Informatika

Bisnis Telekomunikasi dan Informatikan yang didalamnya adalah bisnis telepon bergerak dan data atau internet dalam sebuah masyarakat yang telah mengalami transformasi era dari agraris menjadi informasi maka akan menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan, sehingga menjual produknya dengan layanan yang inovatif serta harga yang terjangkau oleh masyarakat kebanyakan maka akan mempercepat dan membuat transformasi dalam masyarakat menjadi lebih baik, sebab sebuah transformasi era dimulai dari pembentukan paradigma dalam masyarakat yang berujung pada pembentukan budaya dalam masyarakat tersebut. Sehingga dalam era tersebut bisnis telekomunikasi dan informatika mempunyai peluang yang sangat menjanjikan.

Fakta Demografis Telekomunikasi dan Informatika

Dalam konteks bisnis telekomunikasi-informatika di Indonesia, berdasarkan pada fakta dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Susenas, didapati bahwa tingkat kepemilikan rumah tangga terhadap telepon selular adalah sebesar 37.59% (2007), Tabel 1: Rumah Tangga yang memiliki Telepon Selular, ditingkat propinsi, tingkat kepemilikan terbesar adalah pada propinsi DKI Jakarta dengan 71.27%, kemudian disusul oleh Riau Kepulauan sebesar 71.02%, dan selanjutnya adalah Kalimantan timur dengan 60%, sedangkan propinsi lainnya rata-rata tingkat kepemilikannya adalah dibawah 50% dan yang terkecil adalah pada propinsi Maluku sebesar 21.73%, dari fakta diatas dapat kita lihat bahwa penyebaran demografis tingkat kepemilikan telepon selular di Indonesia masih tidak merata dan terbesar di Propinsi DKI Jakarta dan Riau Kepulauan.

Enabler lainnya dalam era informasi selain kebutuhan komunikasi yang salah satu indikatornya adalah tingkat kepemilikan telepon bergerak, maka faktor lainnya dalam era ini adalah tingkat askesabilitas terhadap informasi melalui media internet. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Susenas, menunjukkan bahwa persentase pengguna internet yang mengakses dari rumah secara nasional baru berkisar 1.3%, sedangkan per propinsi pengguna internet dari rumah terbesar adalah pada propinsi DKI Jakarta dengan 5.59% dan selanjutnya disusul oleh propinsi Riau Kepulauan dengan 3% dan selanjutnya adalah propinsi DI Yogyakarta dengan 2.45%. Sedangkan propinsi dengan jumlah pengakses terkecil adalah pada propinsi Sulawesi Tenggara dengan 0.2%. Tabel 2 menunjukkan jumlah pengguna internet dari rumah.

Jumlah pengakses internet dari rumah secara nasional berkisar pada 1.3% sedang kan jumlah pengguna internet melalui warnet secara nasional adalah sebesar 3%, dan yang terbesar pengakses internet melalui warnet adalah propinsi DI Yogyakarta sebesar 16.48% dan yang terendah pengakses internet melalui warnet adalah pada propinsi Sulawesi Barat dengan 0.2%. (Tabel 3: Pengguna Internet Melalui Warnet).

Dari hasil survey diatas dapat memberikan gambaran yang sangat jelas tentang tingkat penetrasi teknologi informasi di Indonesia, baik kepemilikan telepon selular dan juga akses ke internet, serta tingkat penyebarannya di tingkat nasional dan juga penyebarannya keseluruh propinsi di Indonesia.

Fakta Demografi di Indonesia

Kebutuhan akan informasi dan juga pengguna teknologi telepon selular sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan, umur dan juga tingkat pendapatan dari masyarakat pengguna jasa tersebut. Sehingga sangat penting bagi produsen jasa atau penyedia teknologi informasi dan komputer (internet) untuk memahami demografi penduduk Indonesia. Berdasarkan pada hasil survey dari Susenas pada tahun 2005, jumlah usia produktif di Indonesia mencapai 211 Juta jiwa untuk semua level pendidikan, dari semuanya tingkat pengangguran tertinggi terjadi di propinsi jawa barat dengan 2,5 juta jiwa kemudian disusul dengan propinsi jawa timur dengan 1.6 juta jiwa, secara nasional tingkat pengangguran pada tahun 2005 mencapai 10.26% dan propinsi dengan tingkat pengangguran terkecil terjadi pada propinsi Bali dengan 4.03%.

Kemudian faktor demografi lain nya yang harus menjadi perhatian Utama adalah tingkat umur serta penyebarannya, dan dari hasil survey yang dilakukan oleh Susenas tahun 2005, struktur umur masyarakat Indonesia.

Dan terlihat bahwa penyebaran penduduk menurut kelompok umur didominasi oleh kelompok umur sekolah, yaitu pada range 9-20 Tahun, sedang kan jumlah usia produktif pada tahun 2005 adalah dalam kategori menengah.

S-W-O-T Analisis: Peluang dan Tantangan Bisnis Telekomunikasi-Informatika
Jika kita bandingkan dengan negara maju dalam industri telekomunikasi dan informatika, sebagai contoh Singapore, di Singapore tingkat penetrasi atau pengguna telepon selular, menurut data dari Bapenas tahun 2002 telah mencapai 60%, bandingkan dengan Indonesia yang hanya 37.59% ditahun 2007, artinya dari 211 juta jiwa penduduk Indonesia baru sekitar 120 juta jiwa saja yang menggunakan telepon selular di tahun 2007, sebuah peluang yang sangat besar bagi pelaku bisnis telekomunikasi dan informatika untuk melakukan investasi pada bisnis tersebut.

Kemudian jika kita bandingkan jumlah pengguna Internet di Indonesia dengan negara yang maju dalam bidang telkomunikasi dan informatika, seperti Singapore yang merupakan negara nomor 1 di ASEAN dan 14 dunia dalam hal penerapan teknologi informasi, dimana tingkat penyerapan di Singapore sudah mencapai 115%, kemudian di Malasyia pengguna internet sudah mencapai 90%, di sudah China 1.600% dan India 4.500% (2007) sebuah tingkat penyerapan dan pertumbuhan teknologi telekomunikasi dan informatika yang sangat fantastis, sehingga memang membuat daya saing human capital Indonesia masih kurang mampu bersaing secara optimal dipasar regional.Selain begitu banyak nya kendala terhadap investasi dan perkembangan bisnis telekomunikasi dan informatika di Indonesia namun peluang untuk menjadi “leader” dalam bidang telekomunikasi dan informatika masih sangat luas, seiring dengan ditemukannya teknologi dengan biaya investasi yang lebih murah.

Ancaman dan Kelemahan Bisnis Telekomunikasi dan Internet (Threat – Weakness)

Dengan melihat kenyataan yang ada bahwa tingkat pengguna telepon selular dan juga internet yang masih kecil dalam lingkup nasional serta dengan penyebaran yang tidak mereta disetiap propinsi maka akan memberikan peluang yang sangat besar bagi operator telekomunikasi untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari bisnis telekomunikasi ini. Disisi lain, sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa bisnis telekomunikasi adalah bisnis yang sangat sarat dengan modal, sehingga diharapkan return yang besar pula dari bisnis ini. Sehingga dari sudut pandang operator telekomunikasi akan melakukan investasi hanya pada area atau propinsi yang tingkat penggunaan nya besar sehingga infrastruktur yang dibangun juga terfokus pada daerah kota yang padat penduduk atau kota-kota besar, dan cenderung mengurangi tingkat investasi untuk daerah rural dengan tingkat kepadatan penduduk yang kecil sehingga hal inilah yang membuat tingkat penyebaran telekomunikasi di Indonesia menjadi tidak merata, dan inilah yang membuat tingkat penggunaan telephone selular di Indonesia masih rendah.

Kendala yang lainnya adalah tingkat pengangguran yang tinggi di Indonesia yaitu berkisar 10% pada tahun 2007 merupakan salah satu tantangan tersendri bagi operator telekomunikasi untuk mempeluas jaringannya guna meningkatkan tingkat penggunaan telepon selular, sebab dengan investasi yang tinggi maka akan sulit bagi operator telekomunikasi untuk menjual jasa telekomunikasi nya dengan harga yang rendah atau terjangkau jika tingkat pengangurannya masih tergolong tinggi.

Sebaran demografis tentang kepemilikan telepon selular, seharusnya operator telekomunikasi tidak lagi berfokus untuk membangun infrastrukturnya di propinsi yang tingkat kepemilikannya tinggi seperti DKI Jakarta dan Riau Kepulauan akan tetapi harusnya pada propinsi dengan tingkat kepemilikan yang relatif rendah dan kondisi masyarakatnya dengan tingkat pengangguran yang rendah, sehingga dengan pemerataan pembangunan infrastruktur telekomunikasi tersebut akan meningkatkan jumlah kepemilikan telepon selular dan internet di Indonesia yang pada akhirnya akan meningkat kan daya saing human capital.

Kendala lainnya yang dihadapi oleh operator telekomunikasi adalah tidak meratanya infrastruktur fisik seperti jalan dan juga supply power listrik yang sedikit banyak memberikan kendala yang tidak kecil bagi operator telekomunikasi dalam memperbesar investasinya dalam bisnis telekomunikasi dan informatika untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam hal jumlah pengguna dan penetrasi jaringan telekomunikasi dan informatika yang baru mencapai 37% pada tahun 2007. Untuk itu, kedepan infrastruktur harus menjadi perhatian utama pembangunan sehingga akselerasi pembangunan telekomunikasi dan informatika menjadi semakin dapat dipercepat.

Peluang: Inovasi Produk Telekomunikasi dan Internet (Strength – Opportunity)

Sebagaimana yang tercantum pada lampiran yang menunjukkan bahwa jumlah pengguna telepon selular yang semakin meningkatkan dan mengalahkan jumlah pengguna telepon tetap dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007, dan tren yang terjadi pada pengguna telekomunikasi selular juga diikuti oleh pengguna akses internet yang mempunyai tren yang sama dalam jumlah pengguna atau pengakses internet yang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (2005-2007), seharusnya melahirkan optimisme bagi semua operator telekomunikasi yang ada untuk memperluas jaringannya.

Sesuai dengan keputusan Menkominfo yang telah membuat aturan untuk menurunkan biaya interkoneksi telah menjadi salah stimulus bagi operator telekomunikasi untuk membuat sebuah produk jasa telekomunikasi dengan harga yang bersahabat dengan pengguna telepon di Indonesia yang kebanyakan tingkat pendapatannya yang kecil. Disisi lain jumlah operator telekomunikasi di Indonesia yang berjumlah 11 operator telah memaksa semua operator untuk melakukan inovasi guna menjaring pengguna telepon selular sebanyak-banyaknya, maka ditahun 2007 banyak operator telekomunikasi yang melakukan perang tarif baik untuk layanan pesan singkat dan juga voice, hal ini tentu saja sangat menguntungkan bagi pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia yang mana dengan harga service yang murah tersebut akan dapat mempertemukannya dengan daya beli masyarakat yang masih rendah. Faktor lain yang juga menjadi stimulus bagi penjualan dan peningkatan bisnis telkomunikasi ini adalah adanya kemajuan teknologi di bidang handset manufaktur sehingga dapat membuat produk handset dengan harga yang murah sehingga memperbesar daya beli masyarakat terhadap jasa telekomunikasi selular. Pasar telekomunikasi selular yang didominasi oleh usia sekolah telah membuat operator menurunkan tariff layanan pesan singkat secara signifikan guna menjaring potensi pasar pada tingkat usia sekolah ini, salah satu inovasi dalam tingkat ini adalah membuat “kamus” bahasa dan gaya pesan singkat sehinga lebih meningkatkan daya tarik untuk berkomunikasi dan bertransaksi melalui pesan singkat.

Jika diawal perkembangannya bisnis telekomunikasi merupakan sebuah bisnis yang sangat sarat dengan modal dkarenakan mahalnya harga perangkat sentral telekomunikasi dengan platform konvensional, maka dengan seiring perkembangan penemuan dibidang telekomunikasi telah banyak memberikan perubahan pada platform teknologi sehingga harga perangkat yang digunakan menjadi sangat murah, dan hal ini juga merupakan salah satu faktor yang menjadikan operator telekomunikasi di Indonesia dapat menjual produknya dengan harga yang murah. Sehingga dari sini, dengan melihat semua potensi pasar telekomunikasi yang ada dengan penyebaran infrastuktur yang tidak merata, maka dengan adanya perkembangan dan kemajuan dalam teknologi sentral telekomunikasi akan menjadikan stimulus bagi operator telekomunikasi untuk semakin memperluas jaringan nya sehingga tingkat penetrasi jaringan telekomunikasi dapat ditingkatkan dan pada akhirnya jumlah pengguna akan melonjak dengan signifikan. Tahun 2007 ditandai dengan banyak nya layanan gratis baik pesan singkat atau voice yang diberikan oleh semua operator telekomunikasi sehingga tingkat penetasi pasa telekomunikasi akan semakin terangkat.

Hal lain yang tak kalah menariknya adalah minat yang besar bagi masyarakat Indonesia akan akses ke internet, yang dari data demografis pada tabel 2 dan 3, jumlah pengguna internet dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 menurut data dari Susenas telah mengalami peningkatan yang signifikan, hal ini menunjukkan betapa minat yang sangat tinggi bagi masyarakat untuk mengakses internet baik dari rumah ataupun warnet. Sehingga hal ini merupakan sebuah peluang yang besar bagi operator telekomunikasi untuk meraup untung dan pasar yang tinggi. Jika pada awal tahun 2000, penyedia internet masih sangat rendah dan operator penyedia jasa koneksi internet juga masih sangat terbatas maka harga akses internet menjadi sangat mahal, misal nya saja akses internet melalui TelkomNet Instant yang dimiliki oleh PT.Telkom menjualnya dengan harga yang cukup mahal.
Dengan sebaran penduduk yang palinnbg besar adalah pada usia sekolah dan dengan tingkat pendapatan yang kecil dan angka pengangguran yang besar maka akan sangat susah jika kita menjual produk akses internet yang mahal, sebab daya beli masyarakat yang rendah. Sebagaimana yang terjadi pada bisnis telekomunikasi selular, bisnis penyedia jasa internet juga mengalami keuntungan dengan adanya penemuan baru dalam teknologi akses internet, katakanlah dengan 3.5 G Broadband dan juga Wimax, sebuah teknologi yang memungkinkan operator untuk menjual akses internet dengan harga yang memadahi dan terjangkau dengan daya beli masyarakat.

Dengan struktur penduduk seperti di Indonesia operator harus mampu membuat inovasi dalam hal layanan yang dijual ke masyarakat, sebagai contoh layanan e-wallet, yaitu pembayaran yang dapat dilakukan dengan menggunakan pulsa telepon, kemudian dengan membuat komunitas yang akan membuat orang lebih intens dalam melakukan transaksi dengan pesan singkat

About these ads

One thought on “Tren Demografi di Indonesia: Peluang, Tantangan dan Inovasi dalam Bisnis Telekomunikasi dan Informatika

  1. Pingback: Bab 3 Metode Penelitian « Murtihasanah's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s